Back to Kompasiana
Artikel

Sejarah

Kudeta Putih

Peduli kedaulatan ekonomi, informasi seputar dinamika ekonomi nasional, baik berupa ancaman maupun peluang bagi keberlanjutan selengkapnya

Sejarah Kretek (2); Masa Orde Lama dan Orde Baru

OPINI | 04 June 2013 | 13:16 Dibaca: 45   Komentar: 0   0

kretekPasang Surut Industri Kretek (02): Geliat Bulan Madu Kretek Dengan Republik Baru

Tidak ada banyak hal terkait kretek yang bisa diungkap dari masa pendudukan Jepang di Indonesia yang singkat.  Sebab Jepang hanya tertarik pada penaklukan dan memenangkan perang. Bagi Jepang, semua hal harus bisa dimanfaatkan untuk menopang kegiatan perang. Guna memenuhi kebutuhannya akan minyak pelumas, maka Jepang merombak sebagian besar perkebunan yang ada, dan diganti dengan tanaman pohon Jarak.  Pada masa pendudukan Jepang ini, hasil produksi perkebunan Indonesia merosot sampai 80 persen.

Perkebunan tembakau dan cengkeh termasuk yang dikorbankan disini. Akibatnya, produksi tembakau dan cengkeh turun signifikan, harga tembakau dan cengkeh sebagai bahan baku kretek menjadi mahal. Impor dilarang. Situasi ini memaksa pengusaha kretek untuk menggunakan bahan baku yang masih mereka punyai saja.  Sekalipun tidak ada catatan resmi, namun dapat diperkirakan bahwa produksi kretek pada masa pendudukan Jepang ini juga mengalami penurunan drastis. Bahkan karena tiadanya cengkeh, banyak perusahaan kretek yang menggunakan garam sebagai pengganti cengkeh, guna mempertahankan bunyi “keretek-keretek” ketika kretek produksinya dibakar.

Tidak hanya itu, pemerintah pendudukan Jepang juga banyak menyita perusahaan yang ada. Termasuk perusahaan yang memproduksi kretek. NV. Bal Tiga Nitisemito, menjadi salah satu perusahaan yang disita Jepang. Masa pendudukan Jepang adalah masa kematian bagi industri dan perkebunan, termasuk pula industri kretek.

Setelah Jepang angkat kaki dan Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, upaya pemulihan ekonomi Indonesia, termasuk merevitalisasi industri kretek mulai dilakukan. Sekalipun harus menghadapi agresi Belanda, namun pada 1947 impor cengkeh dan tembakau untuk dapat memenuhi kebutuhan bahan baku industri kretek bisa dilakukan. Sayangnya, keberadaan  tembakau dan cengkeh impor itu belum bisa diakses oleh semua industri kretek secara baik. Sebab situasi yang belum aman dan pertempuran sesekali masih saja terjadi. Hanya industri kretek yang berada di daerah yang dikuasai Belanda sajalah yang bisa mengaksesnya, terutama yang berada di Surabaya, Malang dan Semarang.

Pengakuan resmi Kerajaan Belanda terhadap kemerdekaan Indonesia pada 27 Desember 1949, merupakan fajar harapan bagi industri kretek. Tidak ada lagi blokade yang menghambat industri kretek untuk dapat mengakses bahan baku. Industri kretek kembali berkembang. Pemerintah tinggal meneruskan kebijakan pemerintah Hindia Belanda dalam memungut banderol pajak atas produk tembakau.  Dalam kurun 10 tahun, pendapatan Negara dari cukai tembakai meningkat secara fantastis. Jika pada 1952 cukai tembakau yang didapat Negara masih berada pada kisaran 47 juta rupiah, maka pada 1962 pendapatan Negara dari sektor ini bisa meningkat tajam jadi 920 juta rupiah.

Hal tersebut menandakan telah terjadi perkembangan yang menggembirakan pada  bisnis kretek tersebut. Selain meningkatnya pendapatan Negara dari cukai tembakau, kemerdekaan Indonesia juga membuat industri kretek semakin meluas dan tidak terkonsentrasi di Jawa saja.  Industri kretek juga menyebar ke daerah Sumatera. Bali dan Lombok.  Ini menyebabkan jumlah produksi kretek secara nasional meningkat, bahkan pada tahun 1963 mencapai 20,71 milyar batang.

Regulasi perpajakan yang ditetapkan oleh pemerintahan Republik Indonesia, ternyata juga berpihak pada industri kretek.  Pada tahun 1950, pemerintah menetapkan pajak untuk rokok yang dibuat dengan mesin sebesar 50 persen dari harga eceran, adapun rokok yang dibuat dengan tangan hanya dikenai pajak 40 persen.  Pada tahun 1959, kebijakan pajak tersebut diperbaiki lagi. Rokok buatin mesin dikenai pajak 50 persen dan rokok buatan tangan dikenai pajak 20 persen. Selain itu pemerintah juga melakukan nasionalisasi terhadap perusahaan asing yang ada di Indonesia, termasuk prabrik rokok putih BAT.

Terjadinya pergolakan politik pada 1965 yang mengakhiri supremasi rejim orde lama telah membawa wajah lain pada industri kretek tanah air. Tampilnya regim baru di Indonesia yang menamakan dirinya dengan orde baru, telah merubah kiblat Negara ini untuk berpaling kea rah barat.  Kucuran dana dari bank dunia untuk membantu republic ini, diberikan dengan serangkaian persyaratan yang harus dipatuhi. Selain ide tentang liberalisasi ekonomi yang ditandai dengan pembukaan keran investasi asing selebar-lebarnya, persyaratan lain adalah pengembalian perusahaan asing yang sebelumnya telah dinasionalisasi.  Diantara perusahaan asing yang minta dikembalikan itu adalah BAT, yang sebelumnya jadi produsen rokok putih terbesar di Indonesia.

Segera setelah dikembalikan, pada tahun 1968 BAT melesat cepat menjadi lokomotif penarik gerbong yang sarat dengan muatan rokok putih.  Citra dan prestise yang dibawa rokok putih, dengan segera berhasil mendesak kretek. Sebab sedari awal memang terjadi segmentasi bahwa rokok putih banyak diminati oleh orang kaya dan rokok kretek banyak diminati oleh kalangan rakyat kebanyakan. Rokok putih berhasil mengangkat dirinya sebagai simbol status sosial masyarakat.  Maka tidak mengherankan jika pada 1970, BAT dengan rokok putihnya semakin merangsek dominasi kretek dan berhasil menguasai 40 persen pasar rokok nasional.

Perlu digaris bawahi, BAT hanyalah satu perusahaan rokok asing, dan dia sanggup mengeruk 40 persen pasar rokok nasional. Adapun sisanya yang 60 persen, diperebutkan oleh puluhan bahkan ratusan industri kretek dari berbagai skala. Dalam hal pertarungan antara rokok putih melawan kretek, memang kretek masih diatas angin. Namun jika dicermati perusahaan rokok apa saja yang melakukan pertarungan itu, maka BAT adalah perusahaan yang paling kuat bahkan luar biasa kuat.

Angin segar sedikit bisa dinikmati produsen kretek ketika pada tahun 1970 itu pula pemerintah mencanangkan swasembada cengkeh untuk mengurangi impor.  Selanjutnya pada 1974 pemerintah mulai menyalurkan pinjaman lunak untuk industri kretek dan mengijinkan penggunaan mesin pembuat rokok pada industri kretek.  Tidak berselang lama berdirilah perusahaan kretek dengan mesin modern seperti; Djarum pada 1976, Gudang Garam pada 1978 dan Sampoerna pada 1984. Ketiga perusahaan tersebut menyusul Bentoel yang telah eksis dengan mesin dan pabrik modern sejak 1968. Sejak waktu itulah, publik mulai mengenal kretek yang menggunakan filter.

Kemasan yang lebih bagus serta penggunaan filter, membuat geliat kretek kembali bangkit. Secara perlahan kretek berhasil merangsek dan menekan peredaran rokok putih yang sudah lebih dahulu menggunakan filter. Kalangan atas yang semula mengonsumsi rokok putih, kini berangsur mulai beralih ke kretek filter yang memang memiliki cita rasa yang lebih nikmat dan lebih Indonesia.

Selain itu, program transmigrasi yang dicanangkan pemerintah ternyata juga memberi andil besar bagi penyebaran kretek ke seantero tanah air. Sebab orang Jawa yang kemudian tersebar keberbagai penjuru Indonesia itu, sebelumnya adalah konsumen kretek. Maka dengan sendirinya program transmigrasi tersebut juga membantu penyebaran dan distribusi kretek di seluruh Indonesia.  Tidak mengherankan jika hingga tahun 1990an, kretek terutama kretek filter bisa kembali merajai pasar rokok di Indonesia.

Tulisan ini dipublikasikan juga di sini

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Suasana Jalan Thamrin Jakarta Pagi Ini …

Teberatu | | 20 October 2014 | 08:00

Eks Petinggi GAM Soal Pemerintahan Jokowi …

Zulfikar Akbar | | 20 October 2014 | 07:46

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Harapan kepada SBY Lebih Besar Dibanding …

Eddy Mesakh | | 20 October 2014 | 09:48

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39


TRENDING ARTICLES

Ramalan Musni Umar Pak Jokowi RI 1 Jadi …

Musni Umar | 4 jam lalu

Jokowi Dilantik, Pendukungnya Dapat Apa? …

Ellen Maringka | 4 jam lalu

Ucapan “Makasih SBY “Jadi …

Febrialdi | 11 jam lalu

Jokowi (Berusaha) Melepaskan Diri dari …

Thamrin Dahlan | 18 jam lalu

Lebih Awal Satu Menit Tak Boleh Masuk Ruang …

Gaganawati | 19 jam lalu


HIGHLIGHT

Antara Sinetron dan Novelnya …

Mauliah Mulkin | 7 jam lalu

Keheningan Ceruk Airmata Ratu Ibu Bangkalan …

Husni Anshori | 7 jam lalu

[Cermin] Tentang Keimanan …

Achmad Yusuf | 7 jam lalu

Mengunjungi Candi Sukuh dan Candi Cetho di …

G T | 8 jam lalu

Televisi Raffi Ahmad Nagita Slavina …

Rahmat Derryawan | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: