Back to Kompasiana
Artikel

Sejarah

Muhammad Fauzi Ahmad

Dou Mbojo yang kebetulan tinggal di Malang

Tuha Ra Lanti (Penobatan Sultan) di Tengah Remuknya Peradaban Tanah Bima

OPINI | 19 June 2013 | 15:28 Dibaca: 39   Komentar: 0   1

Tuha Ra Lanti (Penobatan Sultan) di tengah Remuknya Peradaban Tanah Bima.

Muhammad Fauzi Ahmad*

Momentum peringatan hari jadi Tanah Bima yang ke-373 pada tanggal 5 Juli 2013 nanti menjadi prosesi sakralitas budaya yang dipamerkan di hadapan raja-raja Keraton Nusantara. Sangat dimaklumi, betapa tidak pada tanggal 11 Juni 1951 Sultan Muhammad Salahuddin (Sultan Bima ke XII) mangkat dan pada tanggal 9 agustus tahun 1958 pemerintah pusat mengeluarkan Undang-Undang Nomor 69 tahun 1958 Tentang: Pembentukan Daerah-Daerah Tingkat II Dalam Wilayah Daerah- Daerah Tingkat I Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur (www.dpr.go.id), dalam hal ini otomatis mengindikasikan berakhirinya sistem kesultanan beralih ke sistem pemerintahan Swapraja di tanah Bima. Berakhirnya era pemerintahan yang berbasis kesultanan (monarki) pada tahun 1951 membawa implikasi serius dan sangat meluas bagi tatanan budaya dan peradaban di bumi paranaka. Pudarnya eksistensi kesultanan beserta perangkatnya, baik itu keturunan, peninggalan maupun tradisi-tradisi “suci” yang menjadi ciri khas masyarakat di tanah Bima menjadi pertanda anomali keadaan social budaya begitu tidak terkontrol.

Eksistensi kesultanan hanya bisa kita saksikan dalam momen-momen budaya dan festival, museum serta keturunannya sekarang, persis seperti layaknya sebagai “cagar budaya” yang hanya menandakan bahwa kita memiliki masa lalu dan sejarah yang ditulis dengan tinta emas. Ditambah lagi adanya kebijakan pemerintah pusat yang ‘mengimpor” Kepala Daerah/Bupati dari luar untuk memimpin di tanah Bima menambah runyamnya nasib peradaban dan peninggalan sejarah yang begitu tak ternilai harganya. Tragedi hilangnya identitas budaya dan peradaban masyarakat Bima berawal dari masuknya ‘orang-orang asing” yang begitu “bernafsu” untuk mengelola Bima seisinya. Banyak peninggalan bersejarah yang menjadi khasanah budaya tanah Bima di “mpaga” ro “cili” oleh yang berkuasa, baik asesoris istana, maupun peninggalan sejarah lainnya. Benda-benda bersejarah menjadi rebutan siapapun yang memimpin Bima pada waktu itu dan sekarang. Dan kini hanya terpampang benda cagar budaya imitasi-imitasi yang belabel sejarah.

Apa Urgensi Tuha Ra Lanti (Penobatan Sultan).

Adanya niatan dari Majelis Adat Bima untuk menobatkan sultan dari putra mahkota (jenateke) keturunan Raja Bima bisa saja kita nilai sebagai langkah-langkah untuk upaya melestarikan budaya dan adat istiadat ndai mbojo. Di lihat dari segi memeriahkan festival Keraton Nusantara dan momentum penggalangan kunjungan wisatawan (visit Lombok-Sumbawa) oleh dinas terkait merupakan hal yang biasa-biasa saja. Sebenarnya tidak ada korelasi yang jelas, signifikasi dan sinergisitas antara penobatan sultan dengan menaikkan minat wisatawan untuk berkunjung ke Bima, apalagi memeriahkan tanah Bima untuk kepentingan sesaat dan bersifat hingar bingar menghamburkan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Bima untuk kepentingan yang sangat pribadi dan jauh dari ruh kepentingan rakyat.

Tuha Ra Lanti (penobatan sultan) kalau dilihat dari segi peningkatan kunjungan wisatawan tidak memiliki urgensi yang jelas, dan sama sekali hanya merepresentasikan kegalauan, kegelisahan, dan ketidak-pahaman birokrasi dalam mencampur-adukkan kepentingan pribadi seorang kepala daerah dan visi, misi institusi pemerintahan.

Penobatan yang Ternoda.

Tuha Ra Lanti merupakan tradisi kerajaan di tanah Bima yang mana memiliki nilai luhur dan historitas yang tinggi. Dalam tradisi masyarakat di tanah Bima, mengangkat seorang raja atau pemimpin pemerintahan, spiritual sesuatu hal yang sangat sakral. Dikatakan sakral karena hadirnya pemimpin merupakan symbol eksistensi rakyat dan tanah airnya. Minimal kriteria pemimpin yang bisa merepresentasikan rakyat, tanah dan air Bima Sebagaimana dikatakan oleh Abdul Malik Mahmud Hasan dalam buku “Nggusu Waru”. Nggusu Waru adalah delapan tipologi karakter pemimpin/ pimpinan yang dinilai dari tantanan kearifan lokal yang bersumber dari religiusitas, yang akhirnya dapat membuahkan kepemimpinan ideal, pribadi ideal yang seharusnya dimiliki bukan hanya pemimpin, melainkan oleh generasi, rakyat dan masyarakat yang titisan darahnya bermula dari tanah Bima. Kedelapan tipologi dan sifat pemimpin itu tercermin dari seorang pribadi ideal dalam bahasa bima (dumu dou) yang dapat menjadi panutan, contoh dan teladan baik prilaku, genetisitas, moralitas, pola pikir dan profesionalitas yang memungkinkan diangkat menjadi pemimpin. Nggusu Waru itu meliputi:

1. dou maja labo dahu di ndai Ruma Allahu Ta’ala (pribadi yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT).

2. dou ma bae ade (pribadi yang memiliki kepekaaan intelektualitas, moralitas, dan spritualitas).

3. dou ma mbani labo disa (pribadi yang gagah berani dan kuat dalam melindungi kepentingan rakyat).

4. dou ma lembo ade ro ma na’e sabar ( pribadi yang tabah, tangguh dan penuh kesabaran dalam menghadapi situasi, kondisi yang bagaimanapun).

5. dou ma ndinga nggahi rawi pahu (pribadi yang memiliki konsistensi dalam perkataan, perbuatan dan membuahkan hasil).

6. dou ma taho hid’i” atau londo dou ma taho (pribadi yang berasal dari keturunan dan nasab yang baik)

7. dou ma d’i woha dou (pribadi yang memiliki tanggungjawab, responsibilitas, akuntabiltas dan pola hidupnya menggambarkan rakyat yang dipimpinnya).

8. dou ma ntau ro wara (pribadi yang memiliki modal moralitas, materialitas dalam kehidupannya).

Prosesi Tuha Ra Lanti yang digagas oleh Majelis Adat Bima minimal mempertimbangkan delapan kriteria di atas, sebab kalau hanya dinilai dari unsur keturunan kerajaan Bima, momentum tersebut hanya berpesta pora “hampa” ditengah remuknya konstruksi peradaban tanah Bima yang dipertontonkan hari ini.

Semestinya prosesi Tuha Ra Lanti menjadi momentum untuk rekonsiliasi, instropeksi diri, sudah sejauh mana wajah peradaban, tradisi dan adat istiadat luhur kita menjadi sumber inspirasi (kitab moral) dalam mengkonstruksi tanah Bima kearah yang lebih baik dan maju.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Messenger Apps di Android yang Akan …

Kevin Anandhika Leg... | | 22 August 2014 | 20:10

Serial Animasi Lokal Mulai Muncul di …

Pandu Aji Wirawan | | 22 August 2014 | 18:29

Keputusan MK tentang Noken, Bagaimana …

Evha Uaga | | 22 August 2014 | 12:23

Berlian …

Katedrarajawen | | 22 August 2014 | 20:01

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: