Back to Kompasiana
Artikel

Sejarah

Hasbi Zainuddin

Sedang menjalani rutinitas sebagai jurnalis. dan selalu berusaha menyajikan berita yang mencerahkan dan mencerdaskan. Setidaknya, selengkapnya

Pesta Adat Bantaeng yang Kental dengan Nuansa Islam

REP | 28 June 2013 | 16:44 Dibaca: 463   Komentar: 0   0

RITUAL pesta adat gantarangkeke, kembali digelar warga Bantaeng, Rabu 26 Juni 2013 lalu. Perhelatan tahunan ini, merupakan tradisi turun temurun Rakyat Kerajaan Gantarangkeke, sejak sekitar abad XIV. Menariknya, ritual ini kental dengan tradisi Islam. Waktu pelaksanaannya pun mengikuti kalender Hijriyah, yakni setiap pertengahan bulan Sya’ban.

Rabu, 26 Juni lalu, bertepatan dengan 17 Sya’ban, 1434 Hijriah, warga tumpah ruah di sebuah kawasan bersejarah di Kampung Dampang, Kelurahan Gantarangkeke, Kecamatan Gantarangkeke. Di Kawasan yang ramai dengan situs sejarah tersebut, tari-tarian dipertunjukkan, gendang ditabuh, dan kecapi didendangkan.

Salah satu permainan menarik yang dipertunjukkan adalah seni silat khas Makassar, yakni “A’Manca”. Dalam arena seluas sekitar 5 x 5 meter tersebut, para pa’manca (pemain silat, red) menunjukkan aksinya berlaga dengan jurus-jurus silat yang terlihat elok, dan disaksikan ribuan warga yang hadir.

Selain pertunjukan A’manca, ada juga “a’raga”. Sebuah atraksi raga (sepak takraw tradisional, red), dengan memainkan bola raga yang terbuat dari rotan. Pertunjukan itu dimulai dengan tarian Paule, yang diiringi bunyi gendang dan kecapi. Permainan lain yang dipertunjukkan, seperti “A’Longga” (seperti permainan egrang; jangkungan, red), dan Cangke (permainan dengan melempar kayu, red). Jumlah warga yang hadir mencapai sekitar lima ribuan.

“Setiap tahun selalu ramai. Kami selalu hadir, untuk menyaksikan hiburan-hiburan tradisional itu. Pesta adat Gantarangkeke ini sudah menjadi tradisi tahunan, setiap menjelang bulan Ramadan,” jelas Kabag Humas dan Protokol Pemkab Bantaeng, Haji Alam Nur. Dia menjelaskan, dalam tradisi tersebut, utusan-utusan adat dari daerah lain, yakni Luwu, Gowa, dan Bone, selalu hadir. Meskipun tanpa diundang.

Pesta adat dengan pertunjukan sejumlah permainan tersebut merupakan puncak rangkaian pesta adat gantarangkeke yang dimulai dari tanggal 15 Sya’ban. Rangkaiannya dimulai dengan menggelar pasar rakyat yang digelar di pesisir laut di Kecamatan Pajukukang, sejak 15, 16, 17, dan 18 Sya’ban.

Menurut Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Bantaeng, Muh Asri, pesta adat tersebut berawal dari ritual Raja Gantarangkeke, yang secara rutin melakukan penangkapan ikan di sekitar pesisir pantai Pajukukang, pada pertengahan bulan Sya’ban, yang selalu bertepatan dengan masa paceklik.
“Diistilahkan dengan istilah Ma’juku’. Tradisi itu turun temurun dilanjutkan oleh ahli waris Raja Gantarangkeke, hingga pinati (Pelaksana adat/tradisi yang menjaga Rumah Adat Balla Lompoa Raja Pajukukang, red). Namanya Puang Juku,” jelas dia.

Dia menambahkan, banyak situs-situs sejarah kerajaan Gantarangkeke di lokasi pesta adat tersebut. “Bahkan, tidak jauh dari tempat itu, ada arena passaungan tauwa. Disebut begitu, karena, konon arena itu menjadi tempat menyabung manusia,” jelas dia. Konon, sebelum Islam, raja-raja dari Gowa, Bone, dan Luwu, selalu datang dan membawa kesatrianya, untuk bertarung dalam arena Passaungang Tauwa. Dalam “sabung manusia”, tidak sedikit petarung yang harus mati, karena pertarungannya menggunakan badik.

“Setelah Islam datang, sabung manusia diganti dengan ayam. Sekarang, sabung ayam sudah ditiadakan, karena mengundang judi ayam,” jelas Asri. Di kawasan bersejarah tersebut, situs lain yang bisa ditemukan adalah, makam tumanurunga –raja pertama gantarangkeke, rumah adat balla lompoa, dan pohon saukang, tempat raja gantarangkeke melakukan pertemuan dengan tiga raja, yaitu raja Luwu, Gowa dan Bone.

Menurut Asri, Pemkab sementara melakukan upaya mempertahankan tradisi tersebut. “Pada prinsipnya, kita terus menjaga kebudayaan ini tetap lestari. Kami sementara berupaya memperbaiki dan membenahi infrastruktur dan situs-situs di sana,” jelas dia. Itu untuk mendorong pesta adat Gantarangkeke yang menjadi ikon Bantaeng, bisa dilirik wisatawan

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kalahkan Norwich, Liverpool Kian Dekat …

Achmad Suwefi | | 20 April 2014 | 19:54

Ketagihan “Pecel Senggol” …

Hendra Wardhana | | 20 April 2014 | 16:01

Kebijakan Mobil LCGC Yang Akhirnya Membebani …

Baskoro Endrawan | | 20 April 2014 | 13:30

My Mother Is…? …

Salmah Naelofaria | | 20 April 2014 | 15:03

Yuk, Ikuti Kompasiana Nangkring bareng …

Kompasiana | | 15 April 2014 | 20:47


TRENDING ARTICLES

Awas Pacaran Sama Bule Player! Tips dari …

Cdt888 | 16 jam lalu

Mari Jadikan Sekolah Benar-Benar Sebagai …

Blasius Mengkaka | 18 jam lalu

Hargai Pilihan Politik Warga Kompasiana …

Erwin Alwazir | 18 jam lalu

Mandi Air Soda di Kampung, Ajaib! …

Leonardo Joentanamo | 20 jam lalu

Prediksi Indonesian Idol 2014: Virzha …

Arief Firhanusa | 20 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: