Back to Kompasiana
Artikel

Sejarah

Abioyiq

Menulis menyalurkan redundansi agar tak menjadi keruntuhan diri

Wajah Masjid di Bibir Ramadhan

OPINI | 08 July 2013 | 11:53 Dibaca: 290   Komentar: 0   0

1373258895421235781

http://static.republika.co.id/uploads/images/detailnews/siluet-pengeras-suara-masjid-_120924152841-893.jpg

Ketika Rasulullah saw tiba di tanah Madinah setelah perjalanan panjang hijrah dari Makkah, ada tiga hal yang beliau pandang penting untuk dilakukan. Yang pertama, beliau mempersaudarakan antara kaum Muhajirin (kaum muslimin yang hijrah dari Makkah) dan Anshor (kaum muslimin di Madinah). Dengan ini beliau memperkuat ikatan hati, fisik dan jiwa kaum muslimin yang membutuhkan perkuatan di tanah baru.

Yang kedua, beliau memerintahkan untuk membangun sebuah masjid. Karena di masjid inilah seluruh sentral kegiatan kaum muslimin di lakukan. Mulai dari urusan muamalah permasalahan sosial kemasyarakatan, ibadah kepada Allah swt, sampai dengan masalah kenegaraan dan militer.

Dan yang ketiga, beliau membentuk payung hukum dan konstitusi bagi negara Madinah yang kemudian tertuang dalam Piagam Madinah. Konstitusi ini menjadi common platform bagi penduduk Negara Madinah baik yang muslim maupun non muslim untuk berinteraksi dalam sebuah negara.

Satu dari tiga hal ini dapat kita jadikan tuntunan terkait dengan tarhib (menyambut) bulan Ramadhan. Banyak hal yang kaum muslimin di dunia lakukan, mulai dari, pertama persiapan jiwa, pengkondisian ruh dengan melakukan pemanasan ibadah, peningkatan amalan-amalan menjelang bulan Ramadhan, kemudian kedua persiapan hati dengan menghilangkan kedengkian terhadap sesama muslim dan berharap dapat memasuki Ramadhan bersama hati yang bersih dan ketiga persiapan fisik dengan latihan tidur cukup dan latihan berpuasa Senin dan Kamis.

Bagi ibu rumah tangga di Indonesia, persiapan yang tak kalah menarik adalah sahur dan buka puasa di hari pertama. Bagi beberapa anggota keluarga-terlebih anak-anak-sahur merupakan tonggak penting keberlanjutan usaha mereka untuk belajar puasa. Iming-iming menu sahur dan buka puasa yang menarik akan menjadi pancingan tersendiri bagi sang anak untuk menjaga semangatnya berlatih puasa.

Kembali kepada satu dari tiga hal yang dapat menjadi tuntunan dari Hijrah Rasulullah ke Madinah, yaitu dalam hal pembangunan masjid, betapa bangunan ini menjadi simbol sekaligus bangunan sentral pergerakan dakwah Islam di zaman Rasulullah. Tak ada bedanya dengan tarhib Ramadhan. Pengkondisian masyarakat menyambut Ramadhan semestinya juga di mulai dari sini. Dari masjid.

Sepatutnya bagi masyarakat sekitar masjid untuk melakukan pemanasan-pemanasan menjelang hilal Ramadhan. Dimulai dari menyerukan masyarakat untuk meramaikan masjid saat kumandang adzan shalat fardhu, membentuk panitia pembacaan ta’lim atau hadits-hadits seputar Ramadhan, menghidupkan kajian-kajian keislaman, pengajian anak-anak atau Taman Pengajian Alqur’an, sampai dengan menghidupkan tadarus di dalam masjid.

Secara fisik dan ini yang paling banyak dilakukan oleh masyarakat sekitar masjid adalah, gotong royong membersihkan masjid. Membersihkan rumput liar, mengelap kaca masjid, mem-vacuum cleaner karpet dan sajadah, mengepel lantai, membersihkan toilet dan ruang wudhu, mencuci hijab makmum, mengecek ketersedian air di sumur, mengecek mesin pompa air, mengecek lampu-lampu, sound system, kipas angin, pendingin ruangan dan sebagainya.

Semangat Ramadhan hendaknya dimulai dari sini. Persiapan kita dan semangat kita menyambut Ramadhan dapat tercermin dari bagaimana kita mempersiapkan dan menghidupkan masjid. Di sinilah manusia melepaskan batasan pangkat dan jabatan duniawinya, di sinilah sekat pemuka adat dibuka, di sini juga manusia duduk sama tinggi dan sama rendah di atas karpet dan sajadah.

Melalui bersih-bersih masjid ini juga masyarakat menjalin kembali silaturahminya. Bisa jadi mereka yang masih enggan shalat berjama’ah di masjid akan datang dan bertatap muka dengan anggota masyarakat lain¬† pada saat melaksanakan gotong-royong membersihkan masjid.

Melalui pengumuman pengeras suara, pengurus masjid meminta masyarakat sekitar bersama-sama membersihkan masjid dan membawa alat-alat bantunya masing-masing. Ada yang datang dengan sapu, lap, golok, kain pel, dan ember. Ada juga kaum ibu yang datang bukan dengan alat bantu bersih-bersih melainkan dengan teko minum, teh dan kopi serta beberapa hidangan kue basah atau kue gorengan.

Tanpa dikomando semua sibuk mencari perannya masing-masing. Ada yang berkumpul di halaman membersihkan rumput yang meninggi, menyebar ke dalam masjid membersihkan karpet, sajadah dan lantai masjid, ada juga yang mencari kursi untuk pijakan menjangkau kusen tinggi dan kaca-kaca masjid, serta sebagian menuju belakang membersihkan toilet dan ruang wudhu, sebagian lainnya mengecek alat-alat elektronik dan ketersedian air.  Semua sibuk dan merasa ingin berkontribusi.

Pada saatnya ketika Ramadhan tiba, masyarakat telah melakukan persiapan dan pengkondisian terkait masjid baik secara kejiwaan maupun secara fisik. Pemanasan ibadah dan persiapan kondisi bangunan serta fasilitas penunjang kegiatan Ramadhan.

Jika pada masa Rasulullah peran sentral masjid telah menjadi strategi Ilahiah mendukung dakwah Islam dan berhasil mengIslamkan bumi Arab serta beberapa benua lainnya di dunia, maka peran yang sama dapat dirasakan manfaatnya demi menggapai keutamaan-keutamaan bulan Ramadhan.

Shalat fardhu berjama’ah di masjid, berbuka puasa juga bisa secara berjama’ah di masjid, shalat tarawih dan witir berjama’ah di masjid, tadarus di masjid, pesantren kilat anak-anak bisa dilakukan di masjid, ta’lim dan pembacaan hadits bisa dilakukan di masjid dan terakhir i’tikaf menjemput malam lailatul qadar dilakukan di dalam masjid.

Mayoritas ibadah fisik kita dilaksanakan dalam masjid. Kenyataan ini menunjukkan bahwa menjadi sebuah kewajaran manakala kaum muslimin lebih mengutamakan persiapan kegiatan di masjid dan persiapan fisik serta fasilitasnya menyambut bulan Ramadhan, ketimbang berbagai persiapan yang terkadang beraroma seremonial dan penghamburan anggaran belanja rumah tangga semata.

Mari makmurkan dan persiapkan masjid kita menyambut sang tamu agung. Ramadhan 1434 Hijriyah.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Transjakarta vs Kopaja AC, Pengguna Jasa …

Firda Puri Agustine | | 31 October 2014 | 12:36

Kenapa Orang Jepang Tak Sadar Akan Kehebatan …

Weedy Koshino | | 30 October 2014 | 22:57

Juru Masak Rimba Papua Ini Pernah Melayani …

Eko Sulistyanto | | 31 October 2014 | 11:39

Green Bay dan Red Island Beach, Dua Pesona …

Endah Lestariati | | 31 October 2014 | 11:47

Ayo Wujudkan Rencana Kegiatan Sosialmu …

Kompasiana | | 31 October 2014 | 10:19


TRENDING ARTICLES

Hasil Evaluasi Timnas U-19: Skill, Salah …

Achmad Suwefi | 5 jam lalu

Kabinet Jokowi Tak Disukai Australia, Bagus! …

Aqila Muhammad | 5 jam lalu

Menjawab Keheranan Jokowi …

Raden Suparman | 5 jam lalu

Pencitraan Teruus??? …

Boyke Pribadi | 6 jam lalu

Kabinet Kerja Jokowi-JK, Menepis Isu …

Tasch Taufan | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

DPR Akhirnya Benar-benar Terbelah, Bagaimana …

Sang Pujangga | 7 jam lalu

Mendaki Gunung Merapi Tanpa Harus Cuti …

Mcnugraha | 8 jam lalu

Tuntutan Kenaikan Upah Buruh yang Tak …

Agus Setyanto | 8 jam lalu

KIS Adaptasi KJS atau Plagiat JKN …

Aden Rendang Sp | 8 jam lalu

Demokrasi Pasar Loak …

Budhi Wiryawan | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: