Back to Kompasiana
Artikel

Sejarah

Poernamasyae

dibilang panasbung sama pasukan nasi bungkus (beneran) yang tak terverifikasi di kompasiana hahahahaha

Masalah Lima dalam Muhammadiyah

OPINI | 22 July 2013 | 20:02 Dibaca: 868   Komentar: 0   1

Muhammadiyah merupakan organisasi keislaman yang sudah mapan di Indonesia. Saat ini ia memiliki sekitar puluhan juta anggota dan simpatisan di seluruh Indonesia, dan bahkan menyebar ke negara-negara tetangga bahkan sampai ke negara yang jauh di Rusia sekalipun.

KH Ahmad Dahlan mendirikan organisasi ini pada tahun 1912. Jauh sebelum kemerdekaan Indonesia, dan baru pada tahun 1926 didirikan organisasi keislaman lainnya yaitu Nahdhatul Ulama (kebangkitan ulama) pada tahun 1926 sebagai kawan bahu membahu mensyiarkan Islam di bumi nusantara dengan cara masing-masing.

Matan Keyakinan dan Cita-Cita Hidup Muhammadiyah merupakan dokumen awal yang perlu diketahui dan dipelajari oleh kader Muhammadiyah. MKCH (demikian ia disingkat) merupakan pedoman dasar memahami gerak langkah organisasi Muhammadiyah di masa lalu dan ke depannya. Dalam bahasan MKCH dikenal istilah Masalah Lima yang menjadi bahasan secara historiografis perkembangan Muhammadiyah sampai saat ini.

Masalah Lima (Masailul khomsah) merupakan rumusan awal tentang Islam menurut pandangan Muhammadiyah tanpa ada rujukannya dari nashnya (baik Al Qur’an maupun As Sunnah). Dari rumusan tersebut tercantum pandangan dasar tentang Islam menurut pandangan Muhammadiyah yang tertuang dalam penjelasan mengenai AGAMA, DUNIA, IBADAH, SABILILLAH, dan QIYAS.

AGAMA dalam pandangan Muhammadiyah adalah:

  1. Agama yakni Agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad s.a.w. ialah apa yang diturunkan Allah di dalam al-Quran dan yang terdapat dalam as-Sunnah yang shahih, berupa perintah-perintah dan larangan-larangan serta petunjuk untuk kebaikan manusia di dunia dan akhirat.
  2. Agama adalah apa yang disyari’atkan Allah dengan perantaraan nabi-nabi-Nya, berupa perintah-perintah dan larangan-larangan serta petunjuk-petunjuk untuk kebaikan manusia di dunia dan akhirat.

Agama yang dianut oleh para nabi sejak Nabi Adam AS sampai Nabi Muhammad SAW adalah Islam.

DUNIA dalam pandangan Muhammadiyah adalah:

Yang dimaksud “urusan dunia” dalam sabda Rasulullah s.a.w.: “kamu lebih mengerti urusan duniamu” ialah segala perkara yang tidak menjadi tugas diutusnya para Nabi (yaitu perkara-perkara/ pekerjaan-pekerjaan/urusan-urusan yang diserahkan sepenuhnya kepada kebijaksanaan manusia).

IBADAH dirumuskan sebagai:

Ibadah ialah bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah dengan jalan menaati segala perintah-perintah-Nya, menjauhi larangan-larangan-Nya dan mengamalkan segala yang diizinkan Allah.

Ibadah itu ada yang umum dan ada yang khusus:

a. Yang umum ialah segala amalan yang diizinkan Allah

b. Yang khusus ialah apa yang telah ditetapkan Allah akan perincian-perinciannya, tingkah dan     cara-caranya yang tertentu.

SABILULLAH dirumuskan sebagai :

Sabilullah ialah jalan yang menyampaikan kepada keridhaan Allah, berupa segala amalan yang diizinkan oleh Allah untuk memuliakan kalimat (agama)-Nya dan melaksanakan hukum-hukum-Nya.

QIYAS merupakan:

1. Setelah persoalan qiyas dibicarakan dalam waktu tiga kali sidang, dengan mengadakan tiga kali pemandangan umum dan satu kali Tanya-jawab antara kedua belak pihak
2. Setelah mengikuti dengan teliti akan jalannya pembicaraan dan alasan-alasan yang dikemukakan oleh kedua belah pihak dan dengan menginsyafi bahwa tiap-tiap keputusan yang diambil olehnya itu hanya sekadar mentarjihkan di antara pendapat yang ada, tidak berati menyalahkan pendapat yang lain.

Memutuskan :

a. Bahwa dasar muthlaq untuk berhukum dalam agama Islam adalah al-Quran dan al-Hadits
b. Bahwa di mana perlu dalam menghadapi soal-soal yang telah terjadi dan sangat dihajatkan untuk diamalkannya, mengenai hal-hal yang tidak bersangkutan dengan ibadah mahdhah padahal untuk alasan atasnya tiada terdapat nash sharih dan tegas) di dalam al-Quran atau as-Sunnah shahihah maka dipergunakanlah alasan dengan jalan ijtihad dan istinbath dari pada nash-nash yang ada melalui persamaan ‘illat ; sebagaimana telah dilakukan oleh ulama-ulama salaf dan khalaf.

Sumber:

1. http://muhsinhar.staff.umy.ac.id/islam-dalam-pandangan-muhammadiyah-3/

2. Opini pribadi

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kompetisi Tiga Ruang di Pantai-Pantai Bantul …

Ratih Purnamasari | | 18 September 2014 | 13:25

Angkot Plat Kuning dan Plat Hitam Mobil …

Akbarmuhibar | | 18 September 2014 | 19:26

Koperasi Modal PNPM Bangkrut, Salah Siapa? …

Muhammad | | 18 September 2014 | 16:09

Tips Hemat Cermat selama Tinggal di Makkah …

Sayeed Kalba Kaif | | 18 September 2014 | 16:10

Nangkring dan Test Ride Bareng Yamaha R25, …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 06:48


TRENDING ARTICLES

Jokowi Seorang “Koki” Handal …

Sjahrir Hannanu | 15 jam lalu

Indra Sjafri Masih Main-main dengan …

Mafruhin | 16 jam lalu

TKI “Pejantan” itu Jadi Korban Nafsu …

Adjat R. Sudradjat | 19 jam lalu

Penumpang Mengusir Petinggi PPP Dari Pesawat …

Jonatan Sara | 20 jam lalu

Modus Baru Curanmor. Waspadalah! …

Andi Firmansyah | 21 jam lalu


HIGHLIGHT

Ditemukan: Pusat Tidur Dalam …

Andreas Prasadja | 15 jam lalu

Museum Louvre untuk First-Timers …

Putri Ariza | 15 jam lalu

Cinta dalam Botol …

Gunawan Wibisono | 15 jam lalu

Wisata Bahari dengan Hotel Terapung …

Akhmad Sujadi | 15 jam lalu

Jurus Jitu Agar Tidak Terjadi Migrasi dari …

Thamrin Dahlan | 15 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: