Back to Kompasiana
Artikel

Sejarah

Exsan Ali Setyonugroho

SEJARAH ADALAH GURU KEHIDUPAN

Kisah Para Ksatria Revolusi, Tragis

OPINI | 17 August 2013 | 19:36 Dibaca: 452   Komentar: 0   0

Adalah Sukarno, Hatta, Syahrir, Amir Syarifuddin, Tan Malaka dan para Pejuang lain yang mengorbankan jiwa raganya demi Tanah Air tetapi akhir kisah kehidupannya berakhir dengan tragis. Mungkin diantara mereka berbeda peran dalam rantai perjuangan revolusi, yang hasilnya telah mereka ukir di lembar sejarah Indonesia dengan catatan gilang gemilang, yakni kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945 dan pengakuan kedaulatan Indonesia oleh belanda pada Desember 1949.

Para pemimpin ini dengan caranya masing-masing berkontribusi bagi jalannya revolusi Indonesia, akan tetapi mereka mengakhiri kisah kehidupannya dengan tragis. Entah mengapa kisah-kisah para ksatria negeri ini selalu saja berujung dengan cerita tragis, mengiris hati yang selayaknya tidak mereka dapatkan setelah kebesaran dan keagungan yang mereka persembahkan untuk Indonesia.

Menyelam kedalam sejarah, kita bisa melihat akhir cerita Sukarno yang meninggal dalam kesendirian dan keterasingan dibalik tirai Orde Baru, demikian juga Hatta yang hingga akhir hayatnya tak mampu membeli sepatu Bally yang sangat diinginkannya bagi seorang mantan wakil presiden pertama tak punya uang untuk sekedar membeli sepatu bermerk. Ataukah akhir cerita dari Tan Malaka yang ditembak mati oleh tentara republik padahal semasa hidupnya Tan Malaka adalah pejuang penentang kolonialisme lintas bangsa lintas benua sekaliber Ho Chi Minh (Vietnam) dan Jose Rizal (Filipina). Begitupun juga Amir Syarifuddin yang merupakan mantan perdana menteri Republik Indonesia yang dieksekusi bangsanya sendiri tanpa proses hukum pada 19 Desember 1948 tengah malam di desa Ngalian Solo. begitupun juga Sutan Syahrir, yang merupakan diplomat yang ulung dan merupakan perdana menteri termuda di dunia, akan tetapi melakoni kisah hidupnya dengan tragis, Syahrir meninggal dunia di Zurich, Swiss 9 April 1966 dengan status tahanan politik. para pejuang lainnya yang kisahnya tragis di tengah bangsanya sendiri yang telah merdeka.

Menengok sejarah dunia, yakni Revolusi Prancis yang diperingati tanggal 14 Juli merupakan revolusi yang memakan anaknya sendiri, tokoh-tokoh yang mencetuskan revolusi akhirnya tewas dalam pergolakan sengit dimasa revolusi, dan demikian pulalah yang terjadi di Indonesia. “Apakah politik itu kejam?, ataukah memang itu yang sudah digariskan?” (kutip dari lagu iwan fals-sumbang) dan tentusaja tidak jawabannya, politik tidak kejam, yang menutup mata hati hingga tak mengenal cinta kasih pada saudara sebangsa sendiri. Tapi kekuasaanlah yang menjadi candu yang membuatnya  menjadi kejam, kecanduan akan kekuasaan menjadikannya lupa menjejakan kaki di bumi.

Terlepas dari semua itu, para ksatria revolusi kita merupakan individu-individu yang mempunyai karakter dan jalan perjuangan yang berbeda, akan tetapi memiliki  nilai dan tujuan yang sama yakni mewujudkan Indonesia merdeka sepenuhnya tanpa campur tangan kolonial. Mereka berjuanag “dari penjara menuju ke pemerintahan” maka yang terjadi kini yakni “dari pemerintahan menuju ke penjara” sungguh ironis para pemimpin dan politisi sekarang yang tak benar-benar belajar sejarah dari para ksatria revolusi, yang merupakan orang-orang yang memiliki jiwa yang berpegang teguh pada prinsip hidup, idealis yang jelas. Serta yang pasti hingga akhir hayatnya tidak membutuhkan penghormatan untuk diangkat menjadi Pahlawan Nasional yang seperti diributkan akhir-akhir ini. Singkat kata bahwa sejatinya negeri ini membutuhkan para pemimpin yang berjiwa mulia, dan dalam hal ini Soekarno, Hatta, Syahrir, Amir Syarifuddin, Tan Malaka, serta para ksatria revolusi yang lain yang berjuang demi tercapainya Indonesia berdaulat, merekalah merupakan contoh yang amat kongkret dan inspiratif. Selamat berjuang!

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kalau Bisa Beli, Kenapa Ambil yang Gratis?! …

Tjiptadinata Effend... | | 01 November 2014 | 14:03

Sebagai Tersangka Kasus Pornografi, Akankah …

Gatot Swandito | | 01 November 2014 | 12:06

Danau Toba, Masihkah Destinasi Wisata? …

Mory Yana Gultom | | 01 November 2014 | 10:13

Traveling Sekaligus Mendidik Anak …

Majawati Oen | | 01 November 2014 | 08:40

Ayo Wujudkan Rencana Kegiatan Sosialmu …

Kompasiana | | 31 October 2014 | 10:19


TRENDING ARTICLES

MA si Tukang Sate Ciptakan Rekor Muri …

Ervipi | 5 jam lalu

Jokowi Kelolosan Sudirman Said, Mafia Migas …

Ninoy N Karundeng | 6 jam lalu

Pramono Anung Sindir Koalisi Indonesia Hebat …

Kuki Maruki | 6 jam lalu

Keputusan MK Tentang MD3 Membuat DPR Hancur …

Madeteling | 7 jam lalu

Karena Jokowi, Fadli Zon …

Sahroha Lumbanraja | 9 jam lalu


HIGHLIGHT

Mencari Azan ke Kampung Segambut …

Rita Kunrat | 8 jam lalu

Wonderful Indonesia: Menelusuri Jejak …

Casmudi | 8 jam lalu

Memanfaatkan Halaman Rumah untuk Tanaman …

Akhmad Sujadi | 8 jam lalu

Jangan-jangan Jokowi (juga) Kurang Makan …

Eddy Mesakh | 8 jam lalu

Susi yang Bikin Heran …

Mbah Mupeang | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: