Back to Kompasiana
Artikel

Sejarah

Ruslan Jusuf

Suka membaca, menulis, travel, dan gemar kuliner tradisional

Sejarah Aceh; Kerajaan Lamuri dan Sisa Kejayaan yang Terbengkalai

HL | 23 September 2013 | 09:04 Dibaca: 1087   Komentar: 12   5

1379914688955137131

Ilustrasi/Admin (Kompas.com)

SETELAH sekian lama vakum dari dunia literasi, kembali terbesit dalam benak saya akan nasib situs-situs artefak peninggalan Kerajaan Lamuri yang berada di Aceh Besar. Untuk itulah, saya kembali mengangkat cagar budaya Lamuri dalam tulisan ini. Sebagai salah seorang putra Aceh, sudah seharusnya salah satu bukti sejarah endatu (leluhur), kami selamatkan dari pemusnahan secara sistematis oleh orang-orang munafik. Pada tahun 2012, gaung penyelamatan bekas Kerajaan Lamuri banyak menghiasi berbagai media cetak dan elektronik di Aceh. Mulai dari aktivis, budayawan, sejarawan hingga politisi, ”berebut” memberikan argumen yang berkeinginan agar situs Lamuri tetap dipertahankan keberadaanya serta menolak dengan keras pembangunan lapangan golf, yang rencananya akan dibangun di kawasan tersebut.

Setahun atau bahkan lebih, heboh kasus Lamuri telah berlalu. Namun, bagaimana kabarnya kini? Masih suatu tanda tanya besar. ”Angin surga” yang pernah dihembuskan oleh beberapa anggota DPR Aceh, ternyata hanyalah isapan jempol belaka. Konkritnya, hingga kini banyak peninggalan sejarah dan budaya Kerajaan Lamuri masih terbengkalai. Lokasinya ditutupi semak belukar, artefak-artefak sisa kejayaan Lamuri berserakan hingga pemugaran yang belum dilaksanakan sebagaimana janji yang pernah disampaikan oleh orang nomor satu di Aceh Besar.

1379914178872665939

Makam Maulana Qadhi Sadrul Islam Isma

Embrio Kerajaan Aceh Darussalam

Menurut salah seorang peneliti sejarah Aceh, Teungku Taqiyuddin Muhammad, Kerajaan Lamuri merupakan cikal bakal berdirinya Kerajaan Aceh Darussalam. Sebagaimana tercatat dalam sejarah, Kerajaan Aceh Darussalam merupakan salah satu dari 5 (lima) besar kekuatan Islam yang tangguh pada masanya. Kelimanya terikat dalam suatu kerja sama ekonomi, politik, militer dan kebudayaan. Antara lain, terdiri dari, 1) Kerajaan Turki Usmaniyah, yang berpusat di Istambul; 2) Kerajaan Islam Maroko di Afrika Utara; 3) Kerajaan Islam Isfahan di Timur Tengah; 4) Kerajaan Akra di India; 5) Kerajaan Aceh Darussalam di Asia Tenggara, [lihat A. Hajsmy, "Banda Aceh Darussalam Pusat Kegiatan Ilmu dan Kebudayaan", dalam Ismail Suny (ed.), Bunga Rampai tentang Aceh, (Jakarta: Bhrata Karya Aksara, 1980), 208]. Puncak kejayaan dari Kerajaan Aceh Darussalam adalah di masa kepemimpinan Sulthan Iskandar Muda (1607-1636 M).

Mengingat jejak sejarahnya yang memberikan andil besar terhadap kemunculan Kerajaan Aceh Darussalam, maka sangat penting menjaga sisa-sisa warisan kerajaan Lamuri agar tidak lenyap. Sebab, ini merupakan bukti konkret kekayaan sejarah dan budaya Aceh.

Senada dengan Taqiyuddin, pemerhati sejarah Aceh lainnya, M Adli Abdullah, yang banyak menuliskan topik-topik mengenai budaya dan sejarah, juga mengungkapkan keprihatinan yang sama. Ia menuturkan bahwa ketidakpedulian pemerintah terhadap situs Lamuri telah menyebabkan timbulnya klaim bahwa Kerajaan Lamuri dahulunya terletak di Jambi. ”Padahal bukti-bukti sejarah menunjukkan Lamuri berada di Aceh. Maka hal ini perlu dijaga sebagai pembuktian sejarah”, pungkasnya. (tgj.co.id)

ForLamuri

Kekhawatiran akan nasib situs Lamuri yang terancam oleh pembangunan lapangan golf, maka beberapa LSM dan Ormas berinisiatif untuk mengadvokasi bekas kawasan Kerajaan Lamuri tersebut. Karena itu, dibentuklah Forum Penyelamatan Lamuri (ForLamuri).

Dalam pernyataannya, ForLamuri menegaskan bahwa pembangunan lapangan golf di kawasan seluas 300 Ha itu harus segera dihentikan. Sebab, dapat memusnahkan warisan sejarah dan budaya Kerajaan Lamuri.

ForLamuri meminta agar pemerintah Aceh Besar melindungi cagar budaya Lamuri. Khusus untuk investor pembangunan lapangan golf, ForLamuri mendesak agar lokasi pembangunan dipindahkan ke wilayah lain yang tidak menyimpan warisan sejarah Aceh. Ini dikarenakan, jika pembangunan lapangan golf dianggap ”sangat penting”, maka carilah kawasan yang cocok, tapi tidak menganggu peninggalan budaya dan sejarah Aceh serta masyarakat di sekitarnya.

Masih terbengkalai

Walau telah mendapat perhatian dan desakan yang luas agar situs Lamuri dipugar dan dijadikan cagar budaya, tapi kenyataannya hingga kini belum ada reaksi cepat dari pihak-pihak terkait. Sisa-sisa Kerajaan Lamuri seperti, makam, nisan plak-pling dan artefak-artefak, masih saja berserakan dan terbengkalai. Semak belukar masih terlihat ”mengepung” area tersebut. Bagaimanakah kelanjutannya? Belum ada jawaban yang pasti.

Masyarakat yang pro dan kontra pembangunan lapangan golf sama-sama teguh dengan pendiriannya masing-masing. Pemerintah Aceh Besar terkesan lepas tangan dalam hal ini. Mediasi yang pernah digagas di Hotel The Pade, layaknya ”gencatan senjata”. Penetapan kawasan bekas berdirinya Kerajaan Lamuri masih harus ”menunggu” hasil penelitian yang mendalam. Kapankah penelitian itu akan selesai? Hanya waktu yang bisa menjawab.

Semoga kepentingan pihak tertentu untuk meraup rupiah, tidak menyebabkan warisan sejarah dan budaya Lamuri musnah dari bumi Aceh. Karena, bila ini terjadi, ke manakah generasi Aceh akan pergi untuk menelusuri jejak sejarah endatunya?

Ruslan

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Espresso, Tradisi Baru Lebaran di Gayo …

Syukri Muhammad Syu... | | 31 July 2014 | 07:05

Ternyata Kompasiana Juga Ada Dalam Bidikan …

Febrialdi | | 30 July 2014 | 04:30

Indonesia Termasuk Negara yang Tertinggal …

Syaiful W. Harahap | | 30 July 2014 | 14:23

Sultan Brunei Sambut Idul Fitri Adakan Open …

Tjiptadinata Effend... | | 30 July 2014 | 07:16

Punya Pengalaman Kredit Mobil? Bagikan di …

Kompasiana | | 12 June 2014 | 14:56


TRENDING ARTICLES

Jokowi Menipu Rakyat? …

Farn Maydian | 11 jam lalu

Gandhi-Martin Luther-Mandela = Prabowo? …

Gan Pradana | 13 jam lalu

Jokowi Hanya Dipilih 37,5% Rakyat (Bag. 2) …

Otto Von Bismarck | 15 jam lalu

Jokowi yang Menang, Saya yang Mendapat Kado …

Pak De Sakimun | 17 jam lalu

Dilema Seorang Wanita Papua: Antara Garuda …

Evha Uaga | 20 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: