Back to Kompasiana
Artikel

Sejarah

Jimmy Haryanto

Pecinta Kompasiana. Berupaya menjadi pembelajar yang baik, namun sering merasa malu karena belum bisa berbuat selengkapnya

Ketika Belanda Menahan Presiden RI!

REP | 17 December 2013 | 11:16 Dibaca: 24   Komentar: 2   2

Hari ini, 17 Desember 2013 The Associated Press yang juga disebarluaskan berbagai media memberitakan bahwa Belanda menyerang Indonesia tanggal 17 Desember 1948 (ya tiga tahun setelah Indonesia merdeka), dan menyerang ibu kota yang saat itu di Yogyakarta dan menahan Presiden Sukarno dan para pemimpin lainnya.

Walaupun kita selalu mengatakan bahwa Indonesia merdeka tanggal 17 Agustus 1945, namun Belanda masih berupaya untuk menguasai Indonesia dan ingin menikmati hasil alam negara rempah-rempah itu. Tahun 1948 misalnya Belanda masih melakukan serangan ke ibu kota dan tidak tanggung-tanggung, presiden pun ditahan. Itu bisa terjadi karena saat itu Indonesia belum begitu kuat.

Catatan:

Sesuai catatan sejarah tanggal 18 Desember 1948 (17 Desember 1948 waktu Eropa) Jenderal Spoor dari Belanda yang telah berbulan-bulan berupaya menghancurkan TNI memberikan instruksi “Operasi Kraai” kepada seluruh tentara Belanda di Jawa dan Madura untuk menyerang Indonesia. Penyerbuan Belanda ini oleh Pemerintah Belanda tidak pernah disebut sebagai serangan tapi tindakan polisional. Dalam serangan itu disebut setidaknya 128 TNI meninggal dan tidak satu pun dari tentara Belanda.

Segera setelah mendengar berita bahwa tentara Belanda telah memulai serangannya, Panglima Besar Sudirman yang sedang sakit dan TB Simatupang menyatakan perang terhadap Belanda. Berhubung Soedirman masih sakit, Presiden Sukarno sebenarnya berusaha membujuk supaya tinggal dalam kota, tetapi Sudirman menolak. Simatupang juga mengatakan sebaiknya Presiden dan Wakil Presiden ikut bergerilya.

Pada pukul 07.00 WIB tanggal 22 Desember 1948 Kolonel D.R.A. van Langen memerintahkan para pemimpin republik untuk berangkat ke Pelabuhan Udara Yogyakarta untuk diterbangkan tanpa tujuan yang jelas. Selama di perjalanan dengan menggunakan pesawat pembom B-25 milik angkatan udara Belanda, tidak satupun yang tahu arah tujuan pesawat, pilot mengetahui arah setelah membuka surat perintah di dalam pesawat, akan tetapi tidak disampaikan kepada para pemimpin republik.

————

Semoga catatan sejarah ini mengingatkan para pejabat kita bahwa negeri yang kita nikmati sekarang ini penuh dengan perjuangan dan pengorbanan, yang tidak pantas dibalas dengan perbuatan melakukan korupsi. Ya sangat tidak pantas dibalas dengan berbuat korupsi apa pun alasannya!

Merdeka!

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Jokowi Jadi Presiden dengan 70,99 Juta Suara …

Politik14 | | 22 July 2014 | 18:33

Prabowo Mundur dan Tolak Hasil Pilpres Tidak …

Yusril Ihza Mahendr... | | 22 July 2014 | 17:27

Mudik? Optimalkan Smartphone Anda! …

Sahroha Lumbanraja | | 23 July 2014 | 02:49

Apakah Rumah Tangga Anda dalam Ancaman? …

Agustinus Sipayung | | 23 July 2014 | 01:10

Ikuti Lomba Resensi Buku Tanoto Foundation! …

Kompasiana | | 11 July 2014 | 16:12


Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: