Back to Kompasiana
Artikel

Sejarah

Gatot Winarko

Sederhana dan Konsisten (Copas from Mandawega) hehe..

Cerita Rakyat di Balik Meletusnya Gunung Kelud

OPINI | 15 February 2014 | 07:23 Dibaca: 2271   Komentar: 1   1

Gunung Kelud kembali meletus. Kali ini dampaknya lebih besar dibanding yang terjadi pada tahun 2007. Selain memporak-porandakan daerah di sekitar lerengnya, hujan abu juga tersebar menyelimuti sebagian besar Pulau Jawa. Fenomena hujan abu ini menjadi topik hangat di tengah masyarakat. Terlepas dari dampak yang diakibatkan, letusan Kelud memberikan pengalaman yang menarik bagi sebagian warga, terutama di sekitar Karesidenan Kediri.

Tapi jika diamati lagi, lahar yang keluar dari letusan Gunung Kelud lebih mengarah ke utara-barat (barat laut), wilayah Kabupaten Kediri. Ternyata ada cerita rakyat yang beredar di balik fenomena ini. Cerita rakyat adalah salah satu kearifan lokal. Entah itu hanya sekedar mitos atau benar adanya, kita harus menghormatinya karena pasti ada pesan di balik cerita-cerita tersebut.

Cerita mengenai Gunung Kelud bertemakan tentang asmara. Yakni ketika penguasa Kelud kala itu, Lembu Sura sedang jatuh hati pada putri Raja Brawijaya, Dyah Ayu Pusparini (versi lain mengatakan putri tersebut adalah Dewi Sekartaji atau Galuh Candrakirana). Lembu Sura yang hendak meminang Dyah Ayu mendapat hadangan dari pasukan kerajaan. Namun berkat kesaktiannya, Lembu Sura berhasil mengalahkan bala tentara kerajaan.

Setealah itu, Lembu Sura menghadap Raja Brawijaya untuk menyampaikan maksud kedatangannya. Manusia berkepala kerbau ini ingin menjadikan putri raja sebagai istrinya. Sang putri yang berparas cantik tentu keberatan dengan wujud Lembu Sura yang demikian mengerikan. Lantas pihak kerajaan mengajukan satu syarat kepada Lembu Sura. Lembu Sura diminta menggali sumur sedalam (kira-kira) 1000 meter dalam waktu semalam.

Lembu Sura menyanggupi permintaan tersebut. Cintanya yang besar kepada Dyah Ayu membuatnya bersemangat menggali sumur sedalam mungkin. Dengan kesaktiannya, dia hampir menyelsaikan pekerjaannya dalam waktu singkat. Tapi ternyata ini hanyalah siasat kerajaan untuk mencelakakan Lembu Sura. Saat Lembu Sura berada di dasar sumur, pasukan kerajaan segera melemparkan bebatuan ke dalam sumur untuk menimbun Lembu Sura di bawah. Lembu Sura yang tak punya ruang untuk bergerak hanya bisa meratapi nasibnya. Betapa pengorbanan cintanya dibalas dengan pengkhianatan.

Sebelum Lembu Sura menghembuskan nafas terakhirnya, dia sempat melontarkan kutukannya. Jika kelak Gunung Kelud meletus, maka Kerajaan Kediri akan dibanjiri lahar letusan Kelud. Versi lain menyebutkan, kawasan yang dimaksud adalah daerah pesarehan (makam) Sekartaji di daerah Wates, Kediri.

Inilah cerita rakyat seputar meletusnya Gunung Kelud. Ada pesan dibalik cerita ini. Sakit hati seseorang yang dikhianati cintanya, membuatnya mengeluarkan sumpah serapah yang membuat orang yang dicintainya juga menderita. Cinta yang seharusnya menjadikan hubungan menjadi saling membahagiakan, nyatanya berubah menjadi saling menghancurkan. Dan buat para wanita, jika hendak menolak lamaran seorang pria, sampaikanlah dengan baik dan jangan sampai menyakiti hatinya. Sekian

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Menghadiri Japan Halal Expo 2014 di Makuhari …

Weedy Koshino | | 27 November 2014 | 16:39

Bu Susi, Bagaimana dengan Kualitas Ikan di …

Ilyani Sudardjat | | 27 November 2014 | 16:38

Saya Ibu Bekerja, Kurang Setuju Rencana …

Popy Indriana | | 27 November 2014 | 16:16

Peningkatan Ketahanan Air Minum di DKI …

Humas Pam Jaya | | 27 November 2014 | 10:30

“Share Your Dreams” dengan Paket …

Kompasiana | | 26 November 2014 | 11:24



HIGHLIGHT

Keuntungan Minum Air Mineral di Pagi Hari …

Vitalis Vito Pradip... | 13 jam lalu

Perbandingan Cerita Rakyat Ande-ande Lumut …

Kinanthi Nur Lifie | 14 jam lalu

Kalau Nggak Macet, Bukan Jakarta Namanya …

Seneng Utami | 14 jam lalu

Merdeka Tapi Mati! …

Engly Ndaomanu | 14 jam lalu

‘Jujur dan Benar dalam Pola …

Asep Rizal | 14 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: